Selamat datang di http://prigell-zone.blogspot.com . Blog ini bersifat umum; isi artikel multi-katagori sesuai mood dan apa yang sedang dipikirkan penulis. Anda dipersilakan untuk meng-copy, mem- paraphrase dan quote sesuai kaidah HAKI yang berlaku. Segala saran positif akan sangat penulis hargai. [EN: Welcome to http://prigell-zone.blogspot.com. This blog is general; multi-category content of the article according to mood and what the author was thinking. You are welcome to copy, to paraphrase and quote according to the rules of intellectual property laws. Any positive advice would be greatly appreciated writer.] -Prigell Priya Ragil-

Minggu, 12 Juni 2011

Menariknya Mengambil Jalan yang Jarang Dilalui Orang


Kita sering mendegar bahwa manusia senangnya mengambil jalan pintas. Daripada capek-capek sekolah dan belajar tahap demi tahap, dan karier merangkak dari bawah,mendingan jadi gigolo kalau ada modal tampang. Kan lebih cepat dapat uang? Itu soal pilihan karier. Jalan singkat lainnya adalah daripada diet sehat dan olahraga, capek, mendingan kalau ada dananya liposuction saja. Langsung kurus. Saya sendiri kalau ada jalan pintas, jalan cepat jadi kaya, cepat kurus, cepat ini dan itu, kemungkinan besar saya akan mengambilnya,terutama apabila sudah kefefet.
Namun ternyata, mengambil jalan pintas selain penuh dengan resikojadi gigolo bisa kehilangan harga diri belum lagi kalau ditangkap pihak berwajib, liposuction selain menguras kantong tentu merupakan operasi  besar berisiko tinggi. Nah, selain penuh risiko ternyata mengambil jalan pintas juga secara faktor kematangan mental kita akan membuat kita menjadi manusia yang kurang bahagia.
Pertama, apa pun yang kita dapatkan dengan usaha minimum atau gratisan, atau pada intinya didapatkan tanpa usaha keras, biasanya tidak kita hargai sepenuh hati. Makan dengan perut yang tidak lapar tidak akan seenak makan ketika kita sedang kelaparan. Jalan keluar dari suatu permasalahan yang kita temukan tidak akan membawa begitu rasa bahagia apabila masalah itu tidak muncul pada awalnya. There is no joy without sorrow. Tidak bisa dibedakan mana terang apabila tidak pernah melihat gelap.
So, all the process untuk menikmati kehidupan, seperti sebuah cyclecycle kematian dan kehidupan. Tanpa pernah merasa kesepian (kematian) saya tidak akan tahu menghargai rasanya ditemani oleh teman-teman (kehidupan). Tanpa mengalami kesukaran finansial saya tidak akan tahu bagaimana menghargai uang. Tanpa kehilangan orang yang kita cintai kita tidak tahu bagaimana  bahagianya setelah kita berhasil melakukan proses letting go dan moving on. Tidak akan ada suatu transformasi yang significant dalam kehidupan kita apabila kita tidak bersedia melewatiPAIN.
Hidup ini tidak bisa dibilang gampang. Life is hard. Begitu kita menyadari bahwa tidak pernah dijanjikan kepada kita bahwa hidup kita akan mudah, begitu kita menerima bahwa hidup ini memang sudah normal dan lumrah adalah susah, maka kita tidak akan merasakan lagi bahwa hidup ini susah. Inilah kehidupan, tidak lebih tidak kurang. Dan dalam menaunginya, apabila kita menyadari bahwa setiap pain and suffering bila kita lewati dengan kebijaksanaantidak mengambil jalan pintas dan dilalui dengan cara yang menyakitkan namun yang paling efektifjustru dari proses yang menyakitkan itulah kita dibentuk, ditransformasi menjadi manusia manusia yang luar biasa. Semakin kita bertambah usia, maka bertambahlah kebijaksanaan kita.
Bukan hanya bertambah angka usia tapi kematangan mentalnya ya segitu-gitu saja karena tidak pernah mau mencoba melalui tantangan hidup dengan cara yang menyakitkan. Realitas kehidupan dan kebenaran (truth) biasanya kita hindari apabila hal itu menyakitkan. Dan dari menghindari itu, kita hanya mengganti suatu realitas dengan jalan pintas. Cobalah kita mengambil jalan yang orang jarang lalui. Jalan pintas sudah penuh dengan orang. Jalan yang orang jarang lalui akan menuju ke suatu tempat yang tidak banyak orang yang bisa melihat, apalagi merasakan bagaimana rasanya tiba di tempat itu.[ad]
* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the HeartQueen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini