Selamat datang di http://prigell-zone.blogspot.com . Blog ini bersifat umum; isi artikel multi-katagori sesuai mood dan apa yang sedang dipikirkan penulis. Anda dipersilakan untuk meng-copy, mem- paraphrase dan quote sesuai kaidah HAKI yang berlaku. Segala saran positif akan sangat penulis hargai. [EN: Welcome to http://prigell-zone.blogspot.com. This blog is general; multi-category content of the article according to mood and what the author was thinking. You are welcome to copy, to paraphrase and quote according to the rules of intellectual property laws. Any positive advice would be greatly appreciated writer.] -Prigell Priya Ragil-

Senin, 09 Mei 2011

Definisi Sukses Versi Prigell


Barangkali ada banyak definisi tentang sukses, sama banyaknya dengan orang yang pernah memikirkannya. Bagi saya, sukses berarti menjalani hidup dengan hati yang damai, bahagia, dan berkecukupan.

Berkecukupan berawal dari sebuah paradigma yang percaya bahwa “Saya sudah merasa cukup”. Cukup, bisa berbeda bagi setiap orang. Apa yang cukup bagi saya mengkin tidak cukup bagi orang lain, dan sebaliknya, tetapi selama kita sudah merasa cukup, maka kita tidak kekurangan dan karenanya kita merasa bercukupan.

Jadi, berkecukupan dimulai dari kondisi diri, dan hal itu terkait dengan apa saja di dalam aspek kehidupan. Berkecukupan bener-benar tidak terkait seberapa banyak yang kita miliki, misalnya kekayaan atau cinta, tetapi tentang kemampuan kita untuk memberi dan menerimanya dengan bebas—membiarkannya mengalir ke dalam atau ke luar dari hidup kita. Ia identik dengan perasaan nyaman dan puas, dan tidak perlu mengejar apa-apa lagi. Dengan cara ini, kita bebas untuk menerima dan memberi tanpa pamrih.

Cinta adalah satu contoh klasik. Apakah kita mengenal seseorang yang menganggap cinta sebagai barang langka, yang memandang cinta seharusnya dikontrol atau bahkan disimpan untuk orang khusus yang kelak akan datang? Coba mari kita renungkan: kita berkata bahwa cinta membuat dunia ini berputar, kenyataannya kita ragu-ragu untuk memberikan cinta secara lengkap dan bebas, tetapi sebaliknya kita bertindak seolah-olah pasokan cinta sangat terbatas.

Berkecukupan merupakan salah satu aspek dari sukses, tetapi ia hanya bisa diraih bersama dengan aspek-aspek yang lain. Tanpa sukses dari dalam diri berupa pemahaman tentang cara menciptakan kebahagiaan dan kedamaian pikiran, semua bentuk sukses tidak banyak artinya atau kurang memberikan kepuasan jangka panjang. 

Banyak orang yang sangat sukses dalam satu wilayah kehidupan meraka—misalnya, dalam pekerjaan mereka—tidak berhasil membuat diri mereka bahagia dalam arti yang sesungguhnya.

Saya kerap bertanya mengapa ada orang-orang yang bisa meraih lebih banyak kedamaian pikiran, lebih banyak kebahagiaan dan lebih berkecukupan dibandingkan dengan yang lain? Jawaban yang kerap adalah: orang-orang semacam itu lebih beruntung dalam beberapa hal; sukses diperoleh karena seseorang lahir dalam keluarga yang tepat, mendapatkan pendidikan yang tepat, bertemu dengan orang-orang yang tepat, atau nasib yang tepat.

Saya setuju bahwa faktor-faktor tersebut memang bisa menjadi kelebihaan nyata bagi seseorang, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sejarah dipenuhi orang-orang yang mengawali hidupnya dengan ketidak-beruntungan, tetapi dengan menantang berbagai rintangan, mereka berhasil meraih sukses yagn jauh melampaui impian yang paling liar sekali pun.

Henry Ford, contohnya, berasal dari keluarga miskin dan baru bisa membaca dan menulis setelah usianya tidak muda lagi. Juga Thomas Alfa Edison, orang yang bisa disebut penemu terbesar abad ke-20, hanya tiga bulan mengenyam pendidikan formal tanpa pernah mengikuti pelatihan-pelatihan ilmiah. Berkat minat yang sunguh-sungguh yang lahir dari tekad kuat untuk meraih tujuan, mereka mengembangkan diri dan berhasil keajaiban.

Sebaliknya, coba ambil surat kabar, nyalakan pesawat televisi kita, atau dengarkan siaran radio. Kemungkina besar kita akan mendengar tentang kejatuhan seseorang yang mengawali hidupnya sebagai hartawan dan akhirnya kehilangan segala-galanya.

Hal terpenting yang ingin saya sampikan adalah bahwa sukses bukan sebuah kebetulan, tetapi sukses adalah hal yang direncanakan. Sukses terjadi karena suatu alasan. Ia memiliki rumus yang bisa kita pelajari dan ciptakan kembali. 

*Sumber inspirasi lupa lagi dari mana.. ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini