Selamat datang di http://prigell-zone.blogspot.com . Blog ini bersifat umum; isi artikel multi-katagori sesuai mood dan apa yang sedang dipikirkan penulis. Anda dipersilakan untuk meng-copy, mem- paraphrase dan quote sesuai kaidah HAKI yang berlaku. Segala saran positif akan sangat penulis hargai. [EN: Welcome to http://prigell-zone.blogspot.com. This blog is general; multi-category content of the article according to mood and what the author was thinking. You are welcome to copy, to paraphrase and quote according to the rules of intellectual property laws. Any positive advice would be greatly appreciated writer.] -Prigell Priya Ragil-

Rabu, 11 November 2009

Saatnya Berbangkit

Lalu saya mulai membawa buku First Things First --Dahulukan yang utama, ke taman dan membacanya. Sedikit demi sedikit.

Ketika saya sampai ke bagian tentang stimulus dan respons, saya sadar. Saya tahu bahwa saya sedang berdiri di ujung ruang di antara stimulus dengan respons itu.

Sesungguhnya, saya telah berdiri di sana selama satu tahun. Selama itu, perlahan, satu demi satu senti, saya bergerak menuju saat di mana saya bisa memberikan respons.

Akhirnya, setelah satu tahun, saya merasa bisa memberikan respons terhadap dua pengalaman buruk itu.

Perasaan ini bukanlah instan sifatnya. Perlahan, secara bertahap, saya merasa mampu lebih mengendalikan, mengambil inisiatif, dan lebih banyak bertindak.

Rasanya yang sedang terjadi adalah bahwa saya sedang bangun. Akhirnya saya siap meninggalkan kepompong saya. Tubuh saya, pikiran saya, hati saya, siap hidup lagi.

Sasaran pertama adalah segera menyelesaikan Bachelor saya di ITB.

Sasaran kedua adalah mengasihi tanpa syarat. Perlahan saya pikirkan masak - masak apa yang penting bagi saya dan orang - orang terkasih.

Saya mulai gunakan moto menjalani setiap harinya seolah itu adalah hari terakhir hidup saya, maka saya selalu dahulukan yang utama.

Saya coba telaah bagaimana cara berpikir ini dapat saya tanamkan ke dalam rencana - rencana saya yang akan datang.

Jelaslah, hal yang paling sulit yang pernah saya lakukan adalah mengampuni diri sendiri atas kecerobohan itu. Kedua adalah menjalani proses kepompong. Ketiga adalah punya keberanian untuk punya impian lagi,lalu proses membuat impian itu menjadi kenyataan.

Tolong dimaklumi, saya masih punya apa yang saya sebut ' haru biru ' saya.

Saya percaya, saya pasti akan jalan lagi. Meskipun mungkin timpang, tetapi saya akan jalani terus proses kehidupan ini...


*) For their love,support and advice, this notes is dedicated to my fine fellows..

I would particularly like to thank the following : Virtha Meilda Akbarizqa, Hasya Nur Islami, Karlina Berlianty Pertiwi.

Thanks for the wonderful ukhuwwah we've shared together..

Regard's

R R P

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini