Selamat datang di http://prigell-zone.blogspot.com . Blog ini bersifat umum; isi artikel multi-katagori sesuai mood dan apa yang sedang dipikirkan penulis. Anda dipersilakan untuk meng-copy, mem- paraphrase dan quote sesuai kaidah HAKI yang berlaku. Segala saran positif akan sangat penulis hargai. [EN: Welcome to http://prigell-zone.blogspot.com. This blog is general; multi-category content of the article according to mood and what the author was thinking. You are welcome to copy, to paraphrase and quote according to the rules of intellectual property laws. Any positive advice would be greatly appreciated writer.] -Prigell Priya Ragil-

Minggu, 12 Juni 2011

Cemburu Bukan Bumbu Cinta tetapi Bumbu Pengacau Cinta


Oleh: Lianny Hendranata

Saya tulis artikel ini dari note-nya Theodora Goei

Pada saat memasuki abad ke-21, para ilmuwan sepakat menyimpulkan penelitiannya, bahwa hubungan dua orang dalam mendifinisikan cinta adalah: Campuran dari ‘Psikologi, Biologi dan Kimia’. Seseorang yang sudah mengalaminya, bisa berpendapat bahwa: Perasaan cinta (rasa sayang terhadap seseorang) tidak mengenal bangsa, budaya, maupun usia, bahkan tidak mengenal situasi dan kondisi dari manusia mana pun di dunia ini. Di mana penghayatan hubungan itu terisi dengan kemauan, harapan, dan tuntutan, serta dibumbui oleh fantasi, imajinasi, dan visualisasi. Dan, yang paling membuat hubungan menjadi panas serta menimbulkan keretakan adalah bumbu cinta yang bernama cemburu!

Rasa cinta (sayang)—selain berisi harapan untuk selalu dekat dengan segala hal yang diinginkan—juga memiliki pemahaman bahwa, orang yang dicintai itu ‘milikku’. Dikarenakan pemahaman ini, menyebabkan seseorang mengalami apa yang dinamai ‘cinta egois’, cinta yang mengekang pasangannya dalam banyak bentuk. Ini terjadi karena rasa takut kehilangan orang yang dicintai.

Jika hubungan berdasarkan hal ketakutan, bisa dipastikan lambat atau cepat, pasangan menjadi menjauh dan berusaha ‘damai’ hanya untuk membuat ketenteraman. Tetapi sebaliknya, perasaan cinta malah menjadi mencair. Ibarat gunung es, jika terlalu dipegang dan dibakar cemburu Buta, maka yang terjadi bukan lebih mencintai, tetapi cinta menjadi hilang. Karena, pasangan merasa tidak dihargai, lebih tepat tidak dipercayai. Padahal, seseorang akan lebih bereaksi positif jika dipercayai. Jangankan pasangan kita, anak-anak pun lebih respek jika diberi kepercayaan.

Seseorang yang terjebak dalam hal mencintai dengan perasaan takut kehilangan, biasanya banyak dibakar oleh api cemburu. Dan, dengan bercanda orang mengatakan, bahwa cemburu adalah bumbunya saling mencintai. Bahkan, banyak pendapat yang mengatakan bahwa ‘Cemburu ada, karena cinta yang dalam’ memang betul, perasaan cemburu adalah ekspresi adanya cinta, tetapi itu bukan cinta terhadap pasangan kita, tetapi lebih dimaksud cinta kepada diri kita sendiri, yaitu takut kehilangan orang yang dicintai.

Maka, banyak macam eksepresi cemburu yang dikeluarkan, contoh: tidak memercayai apa yang dilakukan pasangan di luar keterlibatan kita. Menjadikan kita paranoia dengan berpikir selalu negatif terhadap kelakuan pasangan kita. Rasa percaya diri meluntur, maka banyak ulah menjadi ‘show-of’ terlalu menonjolkan diri yang tidak pada tempatnya, dan membuat perbandingan dengan orang lain, seolah memperlihatkan bahwa kita paling pantas untuk dicintai.

Hubungan yang berdasarkan rasa memiliki ini, selalu sadar atau tidak sadar ketakutan pasangannya hilang (direbut/beralih kepada orang lain). Ini semua membuat kualitas hidup menjadi negatif, pola pikir dan cara berinteraksi yang buruk, sampai timbul sikap memojokkan pasangan. Terkadang, begitu SANGAT parahnya sikap curiga kepada pasangan, mulai dari diam-diam memeriksa dompet, HP saat pasangan sedang mandi, sampai mengecek tagihan kartu kredit, ATM, menyelidiki via orang kantornya untuk mendapat jadwal kegiatan bisnis, serta bersedia mencuci (membersihkan) mobil sang suami, hanya karena sekedar ingin menemukan apa yang bisa jadi bukti kecurigaan. Maka, terjadilah permainan “Tom & Jerry” di antara pasangan. Hal ini benar-benar Sudah Gila & keterlaluan bukan ?! Bayangkan jika anda yang diperlakukan sebaliknya?

Menjadi pasangan suami istri berdasarkan ketakutan ditinggalkan, takut pasangan beralih mencintai orang lain, sesungguhnya hal itu hanya akan membuat kita lelah dan depresi sendiri. Hal ini menjadikan situasi rumah tangga menjadi tidak enak, sebab ke mana saja pasangannya pergi selalu timbul rasa takut kehilangan dia. Sampai-sampai banyak istri di Indonesia, memegang uang / harta / aset suaminya 100 persen, dan keuangan suaminya dijatah seperti anaknya yang masih SD. Kalau minta uang lebih ditanya untuk apa dan mengapa? sekali lagi...... Bayangkan Jika Anda yang diperlakukan sebalikny?

Istri model begini berpikir, kalau suami tidak punya uang, maka tidak akan bisa berbuat apa-apa, (padahal ini pemikiran yang paling lugu dari seorang perempuan). Survei membuktkan, para suami yang diperlakukan demikian, di luar rumah menjadi teramat Buas & bahkan sangat LIAR !!!! seolah secara psikologis dia mau memperlihatkan, “Saya ini laki-laki yang bisa berbuat apa saja!” Tetapi, di depan istrinya ia mengalah, karena ia tidak mau ribut, apalagi cerai (formalitas status dipertahankan) atau demi anak-anaknya ia 'Terpaksa' bertahan walau hatinya kadang ingin M E N J E R I T.....!!! bahkan konon tidak menutup kemungkinan justru hal inilah yang memicu trend Poligami Terselubung di zaman modern ini. Nah jika benar-benar sudah sampai separah itu.... Bayangkan Siapa yang dirugikan..... bukankah Anda sendiri???

Banyak sifat/karakter orang, banyak pasangan yang begitu menjadi istri atau suami, menjadi orang yang seolah menjadi pemilik dari diri pasangannya. Maka, rumah tangga yang dibangun berdasarkan sifat pasangan seperti ini menjadikan pasangannya bukan menghargai dan kasih sayang tumbuh semakin subur, tetapi jadi hanya sekedar takut saja di depannya, sementara di belakangnya seperti kuda lepas dari kandang. Maka, pikir baik-baik sebelum “kasih leher” untuk diikat dengan tali perkawinan.

Hidup berpasangan yang terikat pernikahan, sudah selayaknya didasari cinta. Cinta di sini merupakan kepercayaan dan kesetiaan, di mana hal ini tidak diminta, tetapi kesadaran individu lebih melestarikan adanya cinta jenis ini. Jadi, cinta di sini bukan berarti orang harus selalu turut "apa maunya kita". Tetapi, cinta dan rasa sayang yang dibangun dari sikap percaya dan menghargai masa lalu masing-masing pihak, akan terasa hangat dan abadi sepanjang masa.

Berhati-hatilah. Egosentris kita banyak pegang peranan dalam hal hubungan. Jadi, pasangan dilihat sebagai hak milik. Dia harus memenuhi keinginan dan gambaran kita, berperilaku seperti kemauan kita dan kalau bisa cinta kita terus. Ini berarti hidup terus-menerus dari (dengan cara amat halus) agresi kehendak – sikap dan ego yang dibuat. Egoisme ini jadi memberi selalu jarak dan tanpa respek pada pasangan.

Untuk hidup dengan rasa memiliki pada umumnya terjadi efek tak dapat memberi napas (baca: ketenangan) kepada yang lain. Maka, secara tidak disadari akan membuahkan teror (perkosaan jiwa) menimbulkan rasa tidak ada kebebasan kepada yang lain, tetapi sekaligus mendapat perasaan keamanan supaya tidak di tinggalkan, walaupun terkadang hanya sebatas fantasi, atau kenyataan semu saja!

Bisa juga terjadi sebaliknya seorang istri yang mengalaminya.

Salam bahagia untuk semua pasangan di dunia ini....

Top of Form
Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini