Selamat datang di http://prigell-zone.blogspot.com . Blog ini bersifat umum; isi artikel multi-katagori sesuai mood dan apa yang sedang dipikirkan penulis. Anda dipersilakan untuk meng-copy, mem- paraphrase dan quote sesuai kaidah HAKI yang berlaku. Segala saran positif akan sangat penulis hargai. [EN: Welcome to http://prigell-zone.blogspot.com. This blog is general; multi-category content of the article according to mood and what the author was thinking. You are welcome to copy, to paraphrase and quote according to the rules of intellectual property laws. Any positive advice would be greatly appreciated writer.] -Prigell Priya Ragil-

Kamis, 19 Mei 2011

Jer Basuki Mawa Bea

Beberapa bulan lalu ramai diberitakan biaya masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terlalu mahal, yaitu Rp 55 juta per mahasiswa baru, di samping sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP). Komentar yang muncul umumnya menyesalkan kebijakan yang berpeluang menutup kesempatan calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu menimba ilmu di ITB. Namun, banyak komentar tidak dilandasi kajian komprehensif alasan mengapa ITB, termasuk juga ex PT BHMN yang lain (UI, IPB, UGM, USU, UPI, Unair) menjadi mahal.

Sebelum berubah status menjadi BHMN, seluruh biaya operasional ITB (termasuk 6 ex. BHMN yang lain) ditanggung pemerintah karena statusnya sebagai Perguruan Tinggi Negeri. Implikasinya adalah dana yang dibebankan kepada mahasiswa sangat murah. Sejak menjadi BHMN tahun 2000 berdasarkan PP 155/2000, pemerintah tidak lagi menanggung penuh dana  operasional ITB, dan kondisi ini mengharuskan ITB menutupi kekurangan dana tersebut secara mandiri. Salah satu sumber yang cepat adalah biaya masuk mahasiswa baru.

Sebagai gambaran, biaya operasional ITB tahun 2011 sekitar Rp. 700 miliar. Dana dari pemerintah kurang dari setengahnya. Dana dari pendaftaran mahasiswa baru sekitar Rp. 115 miliar. Hanya sekitar 60% dari 3500 mahasisiswa baru yang membayar biaya masuk sekitar Rp. 55 juta. SPP dari mahasiswa S1 sampai S3 kurang dari Rp. 200 miliar. Kekurangan sekitar Rp. 50 miliar dicari sendiri oleh ITB dalam bentuk kerja sama para dosen dengan instansi lain atau perusahaan, dana penelitian para dosen, dan usaha lain yang dilakukan ITB.

Tidak Salah Jika Biaya Pendidikan di ITB Mahal
Berikut ini sedikit gambaran tentang ITB. Berdasarkan informasi tersebut mungkin masyarakat dapat memaklumi bahwa wajar jika biaya pendidikan di ITB (termasuk ex. BHMN yang lain) harus mahal.

ITB memiliki sekitar 1050 dosen. Sekitar 800 dosen bergelar doktor, dan kebanyakan adalah lulusan perguruan terkenal di luar negeri.  Beberapa program studi di ITB memiliki dosen yang semuanya bergelar doktor.  Mahasiswa yang masuk di ITB akan dibimbing oleh begitu banyak orang hebat dengan ilmu dan pengalaman riset yang di atas rata-rata dosen di Indonesia. Ibarat suatu perusahaan, ITB memberikan pelayanan prima pada mahasiswa yang masuk.

ITB adalah perguruan tinggi nomor satu di Indonesia yang menghasilkan makalah ilmiah yang tercatat di basis data keskolaran internasional. ITB mengangkat nama Indonesia dalam kontribusi ilmiah sehingga dikenal di tingkat internasional. Seperti yang dilansir Media Indonesia tanggal 13 Mei 2011 dalam rubrik Humaniora, jumlah makalah ilmiah internasional ITB yang terekam di Scopus (basis data keskolaran terbesar di dunia) hingga Februari 2011 adalah 1686. Di belakang ITB menyusul UI (1414), UGM (1001), IPB (683), dan LIPI (648). Institusi atau PT lain di Indonesia masing-masing menyumbang di bawah 500. Dari sekitar 3000 PT yang ada di Indonesia, hanya 47 yang tercatat di Scopus. Artinya, hanya 47 perguruan tinggi di Indonesia yang menghasilkan karya ilmiah yang tercatat di basis data keskolaran internasional. Dengan jumlah dosen yang tidak terlampau besar, jumlah makalah per dosen yang dihasilkan ITB amat besar. Dosen/peneliti dengan sitasi tertinggi di Indonesia adalah dosen ITB. Sitasi di sini menyatakan jumlah kali makalah seseorang direfer oleh peneliti manapun di seluruh dunia.

Namun, jika dibandingkan dengan perguruan tinggi negara ASEAN lainnya, kita patut khawatir. National University of Singapore menghasilkan total makalah ilmiah sekitar 52.502, Nanyang Technological University (27.581), Mahidol University Thailand (13.558), Culalongkorn University (9.956), University of Malaya (9.447), dan University Kabangsaan Malaysia (4.454). ITB diharapkan bersaing dengan PT-PT hebat di atas. Ibarat dalam dunia olah raga, ITB adalah pemain pelatnas yang akan bertarung di tingkat internasional. Tentu biaya pembinaan lebih besar daripada pemain pelatda yang bertarung di tingkat nasional. Kalau ITB dipaksa berbiaya murah, kita akan menyesal nanti. PT Indonesia yang diharapkan dapat mengimbangi PT lain di tingkat internasional akan hilang.

Makalah-makalah internasional yang dihasilkan ITB muncul karena “kelihaian” sebagian besar dosen ITB dalam melakukan riset dalam keterbatasan (fasilitas maupun dana). Kalau dibandingkan fasilitas kita dengan PT lain di Asean saja, fasilitas ITB jauh tertinggal. Beberapa bulan lalu saya menerima kunjungan beberapa dosen dari salah satu PT di Malaysia. Ketika saya jelaskan bahwa di tahun 2010 kelompok riset kami dapat menghasilkan hampir 40 makalah ilmiah internasional dengan dana riset sekitar Rp 300 juta, mereka geleng-geleng kepala. Di Malaysia, satu makalah internasional dihasilkan dengan dana riset ratusan juta. Ini bukan berarti bahawa riset di Indonesia sangat murah. Hasil ini dicapai karena “kelihaian” para dosen mencari berbagai terobosan yang kadang tidak terpikirkan oleh peneliti dunia pada umumnya. Namun, hal ini hanya kasuistik dan tidak dapat digeneralisasi pada semua PT dan lembaga riset di Indonesia.

ITB termasuk perguruan tinggi pelanggan jurnal-jurnal ilmiah internasional yang sangat banyak yang dapat diakses secara gratis oleh mahasiswa. Mahasiswa yang kuliah di ITB akan mendapatkan banyak sekali kemudahan dalam proses pengembangan diri di bidang keilmuan masing-masing. Biaya untuk melanggan jurnal yang begitu mahal diusahakan sendiri oleh ITB.

Akses internet di ITB sangat cepat sehingga mahasiswa dapat mengunakan internet untuk keperluan kuliah dan pengembangan kemampuan begitu mudah. Dalam kaitannya dengan fasilitas internet tersebut, pada tahun 2010, ITB berhasil menduduki peringkat 1 di Indonesia untuk ranking Webometrics setelah berhasil menduduki peringkat 470 dunia, naik dari peringkat sebelumnya pada urutan 676 dunia.

Saat ini Dikti menelorkan program ribuan doktor, dengan mendoktorkan para dosen di perguruan tinggi di dalam dan luar negeri dengan biaya pemerintah. Namun, sebagian besar dosen ITB menjadi doktor di luar negeri hampir tanpa meggunakan dana pemerintah. Mereka memperoleh beasiswa dari pemerintah asing tempat mereka belajar. Sangat beruntung bangsa ini mendapatkan doktor secara gratis berkat usaha ITB sendiri men”doktor” kan dosen-dosennya.

ITB dituntut bersaing dengan PT-PT besar di dunia. Namun anggaran ITB sangat jomplang dibandingkan dengan PT-PT di luar negeri. Dengan mahasiswa sekitar 20.000, tahun 2011 ITB hanya disupport dana sekitar Rp 300 miliar. Universiti Kebangsaan Malaysia dengan mahasiswa sekitar 27.000, tahun 2004 saja mendapat dana 332,9 juta ringgit (sekitar Rp 961 miliar). Universitas Tokyo dengan mahasiswa sekitar 29.000 memiliki anggaran tahunan sekitar USD 2,5 miliar (Rp 22,5 triliun). Tahun 2006, University of Washington memiliki dana riset saja sekitar 1 miliar dolar (Rp. 9 triliun).  Tahun 2007, Nanyang Technological University (Singapura) memiliki dana riset USD 470 juta (Rp. 4,27 triliun). Jelas bahwa anggaran untuk ITB belum berarti apa-apa kalau kita mengharapkan bertarung di tingkat internasional.

ITB adalah perguruan tinggi sains dan teknologi. Banyak kegiatan praktikum yang diberikan kepada mahasiswa, dan sebagian besar memerlukan bahan dan perlatan yang mahal. Sebagaian bahan praktikum dan riset mahasiswa rutin diimpor dari luar negeri dengan harga yang sangat mahal. Beberapa program studi di ITB bahkan memiliki lebih dari sepuluh laboratorium riset. Jelas bahwa biaya penyelenggaraan pendidikan di ITB jauh lebih mahal dari perguruan tinggi lain yang memiliki campuran program eksakta dan non eksakta atau program non eksakta saja.

ITB bukan saja perguruan tinggi yang menitikberatkan pada pengajaran, tetapi perguruan tinggi berbasis pada riset (research university). Merujuk kepada Carnegie Classification, berdasarkan kriteria anggaran riset, jumlah peneliti bukan dosen, dan jumlah program doktor pertahun, terdapat tiga klasifikasi universitas riset berdasarkan Carnegie Classification yaitu DRU (doctoral/research university), RU/H (research university with high research activity) dan RU/VH (research university with very high research activity). Berdasarkan klasifikasi tersebut, saat ini ITB telah memposisiskan dirinya sebagai DRU. Dengan pengecualian pada kriteria jumlah peneliti bukan dosen, ITB telah pula mendekati posisi sebagai RU/H.

Dengan berbagai kebutuhan dan keunggulan di atas, tidak terlalu salah jika ITB menerapkan biaya pendidikan yang lebih tinggi dari PT lainnya. ITB dapat diibaratkan sebagai kendaraan eksekutif di antara kendaraan-kendaraan lainnya. ITB membawa penumpang dalam kenyamanan tinggi dan sampai ke tujuan lebih cepat.

ITB adalah salah satu mercu suar bangsa ini agar dipandang juga oleh dunia dalam kontribusinya di bidang sains dan teknologi. Memang membangun mercu suar itu mahal. Tetapi jika tidak dilakukan, bangsa ini akan tampak gelap dalam tataran perkembangan sains dan teknologi dunia.

Jika ada mahasiswa yang kurang mampu dari sisi ekonomi, tetapi tidak diterima di ITB karena masalah biaya, kita tidak sepenuhnya menyaalahkan ITB. ITB perlu mencari dana untuk menutupi kekurangan biaya operasional. Biaya kuliah di ITB dapat murah atau bahkan gratis jika pemerintah dapat membiayai seluruh biaya penyelenggaraan pendidikan di ITB. Kalau bisa pemerintah memberikan dana yang cukup kepada ITB lalu menagih hasil yang besar ke ITB, melebihi hasil yang ditagih dari perguruan tinggi lainnya.

Oleh: Bapak Mikrajuddin Abdullah, Prof. DR. Eng.
          dosen Fisika ITB
          judul asli : BIAYA PENDIDIKAN ITB MEMANG MAHAL, KECUALI...

1 komentar:

  1. Betul.. Tidak ada yang gratis apalagi untuk kemajuan.. ;-)

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini